Rumah sakit bisa menjadi sumber malapetaka bagi pasien, petugas medis maupun masyarakat lewat infeksi nosokomial. Minimisasi limbah merupakan langkah strategis untuk menciptakan perilaku melekat pada semua pihak di rumah sakit untuk melakukan efisiensi dan menjamin kebersihan.
Demikian sambutan Menteri Kesehatan FA Moeloek yang dibacakan Sekretaris Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPM & PLP) dr Haikin Rachmat MSc pada pembukaan seminar Program Minimisasi Limbah Rumah Sakit, di Cisarua, Kamis (5/8). Dalam seminar itu dibicarakan antara lain pelaksanaan program kesehatan lingkungan di RS Dr Sardjito Yogyakarta, RS Muhammadiyah Bandung, serta RSUD Bekasi.
Menurut Menkes, kasus infeksi nosokomial di RS Dr Soetomo dan beberapa rumah sakit di Jawa Timur dapat menjadi pelajaran bagi setiap rumah sakit, yaitu lemahnya surveillans menyebabkan kasus kefatalan yang tinggi pada bayi baru lahir. "Mungkin hal ini juga terjadi di rumah sakit lain dalam bentuk dan jenis infeksi yang berbeda. Tapi karena pencatatan dan pelaporan kurang baik, kasus berlalu tanpa diketahui dan ditangani secara tuntas," katanya.
Dikemukakan, ada tiga hal pokok yang mempengaruhi sehatnya pelayanan rumah sakit. Pertama, seberapa jauh pimpinan rumah sakit memperhatikan pelaksanaan Peraturan Menteri Kesehatan No 986/Menkes/ Per/ XI/1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit serta petunjuk pelaksanaannya sesuai SK Dirjen PPM & PLP No HK 00.06.6.64 tentang Persyaratan dan Petunjuk Teknis Tata Cara Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit yang disebarkan sejak tahun 1992.
"Masih banyak pimpinan dan pelaksana di lapangan tak memahami ketentuan tersebut. Tercermin antara lain dari adanya infeksi nosokomial, penyakit legionaire dan pencemaran lingkungan akibat limbah kegiatan rumah sakit," ungkapnya.
Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan higiene bangunan, higiene dan sanitasi makanan, penyediaan air, penanganan sampah dan limbah, pengendalian serangga, tikus dan binatang peliharaan, proses pencucian, serta seberapa jauh pemahaman petugas kesehatan tentang sterilisasi dan desinfeksi.
Kedua, rumah sakit perlu memperbarui visinya. Tidak hanya menyehatkan pasien yang berobat, tapi juga menghindarkan terjadinya kasus nosokomial. Kasus nosokomial Cellulitis di RS Dr Soetomo dapat dijadikan telaah. Selain air dan susu, ternyata alat makan seperti piring, gelas, sendok, serta popok bayi juga tercemar bakteri.
Perlu perhatian
Sementara itu Kepala Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat Universitas Gadjah Mada (FKKO-UGM), Yogyakarta, dr Budiono Santoso PhD hari Kamis menyatakan, kalangan dokter sudah saatnya memberi perhatian pada munculnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit infeksi yang potensial terjadi di rumah sakit.
Dikemukakan, kematian sejumlah bayi di RS Blambangan yang diduga sebagai akibat KLB infeksi bakteri Salmonella, bukan kasus pertama. KLB akibat penyakit infeksi beberapa bulan lalu terjadi di RS Dr Sutomo, Surabaya.
Dalam hal ini di setiap rumah sakit tersedia cukup perangkat dan upaya penanggulangannya. Namun upaya tersebut relatif kurang efektif untuk mengantisipasi suatu KLB.
Hal ini, menurut Budiono Santoso bukan masalah sesaat, tapi sesuatu yang sudah lama berkembang terutama diakibatkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan. Karena itu harus menjadi perhatian bahwa hal ini tak bisa diatasi dengan penanganan jangka pendek.
Kalangan dokter di rumah sakit diharapkan mewaspadai kasus luar biasa seperti itu karena posisi rumah sakit sebagai reservoir kuman penyakit infeksi. Selain itu, penggunaan antibiotik yang semrawut. Dikatakan, seharusnya program penanggulangan infeksi nosokomial bisa terlaksana dengan adanya suatu komite di rumah sakit.
|